Icon 1245
Apr, 2023

Kisah Khema Theri

Author
admin

Kisah Khema Theri

Pada zaman dahulu, di Kota Sagala, Kerajaan Madra, India, lahirlah seorang putri di keluarga kerajaan, yang mana memiliki kecantikan yang luar biasa. Ia diberi nama Khema yang dalam bahasa Pali berarti tenang dan keamanan. Ketika mencapai usia yang matang, Khema menikah dengan Raja Bimbisara dari Kerajaan Magadha.

Raja Bimbisara merupakan salah satu penyokong Buddha yang cukup terkemuka, yang mendanakan Hutan Veluvana menjadi Vihara Veluvana di Rajagaha dan sering berkunjung ke vihara tersebut untuk mendengarkan ajaran Buddha. Ia juga menginginkan selirnya, Ratu Khema untuk dapat mendengarkan ajaran Buddha. Khema yang begitu sadar dan bangga akan kecantikannya, enggan untuk memenuhi permohonan Raja Bimbisara untuk menemui Buddha. Hal ini dikarenakan ajaran Buddha yang menggarisbawahi bagaimana penampilan atau kecantikan luar/fisik, tidaklah kekal dan juga tidak akan memiliki nilai dalam mencapai penerangan.

Mengetahui hal ini, Raja Bimbisara berusaha dengan berbagai cara agar Ratu Khema mau berkunjung dan mendengarkan ajaran Buddha di Vihara Veluvana, tetapi gagal. Raja Bimbisara kemudian mengarahkan para penyair kerajaan untuk menciptakan lagu yang menggambarkan keindahan dari Taman Veluvana dan menyanyikannya di depan Ratu Khema. Lagu tersebut secara ringkas berbunyi:

“Siapapun yang belum melihat Taman Veluvana, kediaman Buddha adalah sama dengan mereka yang belum melihat Taman Nandavana dari alam surga”

“Siapapun yang telah melihat Taman Veluvana yang disayangi Raja Bimbisara, telah melihat Taman Nandavana, tempat tinggal favorit Sakka, raja para dewa”

“Banyak dewa-dewi surgawi, yang telah melihat Taman Veluvana tidak mampu untuk berhenti melihatnya”

“Taman Veluvana telah muncul sebagai hasil dari perbuatan masa lalu Raja Bimbisara dan menjadi lebih menarik dengan keagungan Buddha"


Mendengar lagu pujian ini, Ratu Khema menjadi penasaran akan keindahan Taman Veluvana dan berkeinginan untuk melihat taman ini sendiri. Ratu Khema pun kemudian memberitahukan keinginannya ini, yang tentunya disambut hangat oleh Raja Bimbisara. Raja Bimbisara kemudian mengarahkan pengawal untuk menemani Ratu Khema sekaligus mengarahkannya ke tempat di mana Buddha berada.

Setelah menelusuri keindahan dari Vihara Veluvana, Khema dan rombongannya kemudian sampai pada tempat di mana Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada umatnya. Mengetahui keberadaan Ratu Khema, Buddha dengan kemampuan batinnya memunculkan bayangan yang hanya dapat dilihat oleh Ratu Khema, yang mana merupakan wujud seorang wanita muda cantik yang sedang mengipasi Buddha di sisi-Nya. Terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, Ratu Khema kemudian mendekat dan mengagumi keindahan wanita tersebut yang setelah pengamatan lebih lanjut oleh Ratu Khema, berpikir bahwa wanita tersebut jauh lebih cantik daripada dirinya.

Sepengamatan Ratu Khema, wanita tersebut secara perlahan berangsur-angsur menua dan muncul keriput di wajah wanita tersebut. Warna rambut wanita cantik ini juga secara perlahan berubah menjadi berwarna keabu-abuan. Pada akhirnya, wanita cantik tersebut jatuh dan berubah menjadi mayat yang kemudian digerogoti oleh belatung, meninggalkan tulang belulang.

Melihat kejadian ini, Ratu Khema kemudian menyadari ketidakberhargaan dan ketidakkekalan tubuh fisik ini. Ia menyadari bahwa suatu hari nanti, tubuhnya juga akan menua, sakit dan kemudian mati meninggalkan tulang belulang. Buddha, menyadari kematangan pikiran mental Ratu Khema saat itu yang siap untuk menerima ajaran Buddha, mengatakan kepadanya berikut:

“O Khema, perhatikan baik-baik tubuh yang membusuk ini yang dibangun di sekitar kerangka tulang dan takluk pada penyakit dan pembusukan. Perhatikan baik-baik tubuh yang dianggap begitu tinggi oleh orang-orang bodoh. Lihatlah tidak berharganya kecantikan gadis muda ini.”

Mendengar pernyataan Buddha, ia kemudian mendapatkan pencerahan dan mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapanna. Sang Buddha kemudian melanjutkan penjelasan mengenai kemelekatan dan keinginan mendalam, yang terus menerus menjadi lingkaran kehidupan dan kematian, serta cara menghilangkannya, untuk membebaskan diri dari lingkaran tersebut.

Kisah Khema Theri kemudian dilampirkan dalam Dhammapada: Tanhavagga:347 yang berbunyi:

Ye rāgarattānupatanti sota

sayakata makkatakova jāla

etampi chetvāna vajanti dhīrā

anapekkhino sabbadukkha pahāya.

Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan),

seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri.

Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan, serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.


Pada saat khotbah Dhamma tersebut berakhir, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian arahat dan diterima dalam persamuan Bhikkhuni, setelah meminta izin kepada Raja Bimbisara.

Ratu Khema kemudian menjalani kehidupan bhikkhuninya sebagai seorang arahat dan membabarkan Dhamma kepada umat awam serta anggota Sangha lainnya. Dengan pembahasan yang cukup terkenalnya dengan Raja Pasenadi mengenai keberadaan Buddha setelah kematian, Khema Theri terbukti unggul dalam kebijaksanaan. Sebagaimana tercantum dalam kisah pertemuan antara Sakka, raja dewa, Buddha dan juga Khema Theri, yang mana setelah Sakka bertanya kepada Buddha, mengenai siapakah bhikkhuni tadi? Buddha kemudian menjawab bahwa “Ia adalah salah satu murid-Ku yang paling terkenal; Ia dikenal sebagai Khema Theri. Ia tidak ada bandingnya di antara para Bhikkhuni dalam hal kebijaksanaan.” (Dhammapada Brahmana Vagga:21)

Khema Theri merupakan siswi Buddha yang unggul dalam kebijaksanaan, menyeimbangi Sariputta Thera dalam hal yang sama. Khema Theri kemudian dinyatakan sebagai salah satu siswi utama Sang Buddha di samping Uppalavana Theri.

Pesan moral yang dapat kita ambil dari kisah Khema Theri ini adalah ketidakkekalan merupakan hal yang tidak terelakkan, kecantikan jasmani dan keindahan duniawi juga tidak luput dari hal ini. Kita cenderung membandingkan fisik jasmani, dan kemelekatan duniawi kita dengan yang lainnya. Namun, pada akhirnya semua hal itu akan berangsur-angsur menghilang dan habis, menyisakan hanya tulang belulang dari perbuatan kita. Kita terkadang lupa, bahwa hal-hal ini yang akan menimbulkan kebencian, kemelekatan, iri, dengki yang tiada akhirnya. Apabila kita melepas sedikit demi sedikit, benci yang tadinya ada, perlahan dapat pupus dan mereda (Dr. Ari Ubeysekara, 2020).


Sumber:

Antony. (2013). Buddha Gotama Guru Agung para Dewa dan Manusia. Medan: Dhammananda Vacana Group. Halaman 151-152.

Samaggi-phala.or.id. Kisah Khema Theri. https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-khema-theri-2/

Dr. Ari Ubeysekara. (2020). Arahant Khema: Chief Female Disciple of Lord Gautama Buddha –drarisworld. https://drarisworld.wordpress.com/2020/08/22/araha...

Kemenag.go.id. (2022). Obsesi Kecantikan dan Ketampanan. https://kemenag.go.id/buddha/obsesi-kecantikan-dan-ketampanan-zljh1w