Icon 1144
Jul, 2020

Karma Bukan Satu-satunya Penyebab Apa Yang Kita Alami

Author
Kerohanian 2020/2021

Karma Bukan Satu-satunya Penyebab Apa Yang Kita Alami

Kita selalu mendengar Umat Buddha menyalahkan “karma” ketika hal-hal buruk terjadi. Pertama-tama, karma bukanlah suatu alasan yang digunakan untuk menyalahkan apabila terjadi sesuatu.

Karma (Bahasa Sansekerta) atau Kamma (Bahasa Pali) berarti perbuatan atau aksi. Sang Buddha dalam Angutara Nikaya III:415 menjelaskan secara jelas arti dari karma sebagai berikut:

“Aku katakan, kehendak adalah kamma, karena didahului oleh kehendak,
seseorang lalu bertindak dengan jasmani, ucapan , dan pikiran.”

Banyak orang masih percaya bahwa segala sesuatu tentang kehidupan mereka saat ini disebabkan oleh tindakan di masa lalu. Namun, Sang Buddha mengajarkan ada lima jenis faktor yang bekerja dalam alam semesta ini yang menyebabkan hal-hal terjadi, yaitu Lima Niyama (Lima Hukum Alam). Karma adalah salah satu dari faktor-faktor ini. Keadaan sekarang adalah hasil dari gabungan faktor-faktor yang tak terhitung jumlahnya yang selalu berubah atau saling mempengaruhi. Jadi, tidak ada penyebab tunggal yang membuat segalanya terjadi.

Dalam agama Buddha, kelima hukum tersebut adalah sebagai berikut :

1. Utuniyāma

Utuniyāma adalah hukum alam yang bekerja mengenai materi tidak hidup (anorganik).Hukum alam ini mengatur perubahan musim dan fenomena yang terkait dengan iklim dan cuaca. Dalam hukum ini juga dijelaskan tentang sifat panas dan api, tanah dan gas, serta air dan angin. Kebanyakan bencana alam seperti banjir dan gempa bumi diatur oleh Utuniyāma.

Dalam istilah modern, Utuniyāma akan berkorelasi dengan apa yang kita anggap ilmu fisika, kimia, geologi, dan beberapa ilmu fenomena anorganik.

Utuniyāma bukanlah bagian dari hukum Karma dan tidak diganti oleh Karma.

Jadi, dari perspektif Buddhis, bencana alam seperti gempa bumi tidak disebabkan oleh Karma.


2. Bijaniyāma

Bijaniyāma adalah hukum tentang materi yang hidup (organik). Hukum alam ini mengatur tumbuh-tumbuhan dari benih/biji-bijian dan pertumbuhan tanam-tanaman. Bahasa Pali bija berarti “benih” di mana tumbuhan tumbuh dan berkembang darinya dalam berbagai bentuk. Misalnya padi berasal dari tumbuhnya benih padi, manisnya gula berasal dari batang tebu atau madu, adanya keistimewaan daripada berbagai jenis buah-buahan, hukum genetika, dan sebagainya. Semua aspek biologis makhluk hidup diatur oleh hukum ini.


3. Kammaniyāma

Kammaniyāma adalah hukum alam yang mengatur sebab akibat dari perbuatan. Misalnya perbuatan baik dan perbuatan buruk terhadap pihak lain menghasilkan pula akibat baik dan buruk yang sesuai.

Perbuatan (karma) merupakan perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan seseorang yang disertai kehendak (cetana).

Contoh-contoh akibat moral dari suatu perbuatan dapat dijumpai dalam berbagai sutta, misalnya dalam Majjhima-Nikaya, Cula-Kamma-Vibhaga-Sutta :

“Akibat dari membunuh menyebabkan umur pendek dan tidak melakukan pembunuhan menyebabkan umur panjang. Iri hati menghasilkan banyak perselisihan, sedangkan kebaikan hati menghasilkan perdamaian. Kemarahan merampas kecantikan seseorang, sedangkan kesabaran menambah kecantikan diri. Kebencian menghasilkan kelemahan, sedangkan persahabatan menghasilkan kekuatan. Pencurian menghasilkan kemiskinan, sedangkan pekerjaan yang jujur menghasilkan kemakmuran. Kesombongan berakhir dengan hilangnya kehormatan, sedangkan kerendahan hati membawa kehormatan. Pergaulan dengan orang bodoh menyebabkan hilangnya kebijaksanaan, sedangkan pengetahuan merupakan hadiah dari pergaulan dengan orang bijaksana.”

Disini pernyataan “membunuh menyebabkan umur pendek” mengandung makna bahwa ketika seseorang membunuh sekali saja, perbuatan ini akan memberi akibat untuk terlahir kembali dalam keadaan menderita dengan berbagai cara.


4. Dhammaniyāma

Dhammaniyāma adalah hukum alam yang mengatur sebab-sebab terjadinya keselarasan/persamaan dari satu gejala yang khas. Misalnya terjadinya keajaiban seperti bumi bergetar pada waktu seorang Bodhisattva hendak mengakhiri hidupnya sebagai seorang calon Buddha, atau pada saat ia akan terlahir untuk menjadi Buddha. Hukum gaya berat (gravitasi), daya listrik, dan gerakan gelombang termasuk dalam hukum ini.

Diantara sutta-sutta, keseluruhan Mahanidana-Suttanta dan Nidana-Samyutta membahas tentang Dhammaniyāma. Dalam salah satu sutta disebutkan :

“Karena kebodohan muncul kamma : sekarang, O para bhikkhu, apakah para Tathagata muncul atau tidak, unsur (dhatu) ini ada, yaitu pembentukan Dhamma sebagai akibat, ketetapan Dhamma sebagai akibat (Dhammatthitata Dhammaniyamata). Karena kamma . . . (dan seterusnya seperti pada hubungan sebab akibat yang saling bergantungan).”
(Samyutta-Nikaya II:25)

Dhammaniyāma merupakan keseluruhan sistem yang mengatur alam semesta. Empat Niyama lainnya merupakan hukum alam yang spesifik yang mengkhususkan pada aspek tertentu dari alam semesta. Jadi, hukum alam apapun yang tidak termasuk dalam keempat Niyama yang pertama dikategorikan sebagai Dhammaniyāma.


5. Cittaniyāma

Cittaniyāma adalah hukum alam mengenai proses jalannya alam pikiran atau hukum alam batiniah. Misalnya proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, kekuatan pikiran/batin (abhinna), kemampuan untuk mengingat hal-hal masa lampau, dan kemampuan membaca pikiran orang lain.

Citta berarti “yang berpikir”, mengandung pengertian yang menyadari suatu objek, menyelidiki/memeriksa suatu objek. Citta dikatakan berbeda-beda bergantung pada berbagai bentuk pikiran atas objek. Hal ini dinyatakan dalam Kitab Pali :

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat hal lain yang sangat beraneka ragam seperti pikiran (citta). Para bhikkhu, Aku tidak melihat kelompok (nikaya) lain yang sangat beraneka ragam seperti makhluk-makhluk alam rendah (binatang, burung, dan seterusnya). Makhluk-makhluk alam rendah ini hanya berbeda dalam pikiran. Namun pikiran, O para bhikkhu, lebih beraneka ragam dibandingkan makhluk -makhluk ini.”
(Samyutta-Nikaya III:152)

Pikiran menjadi lebih beraneka ragam berkaitan dengan hal-hal yang tidak baik dibandingkan dengan hal-hal yang baik sehingga dikatakan “pikiran menyenangi hal-hal yang buruk”. Oleh sebab itu, makhluk-makhluk di alam rendah yang diciptakan oleh pikiran lebih beraneka ragam dibandingkan semua makhluk lainnya. Dikatakan dalam Kitab Pali:

“O, para bhikkhu, Aku akan menyatakan bagaimana dunia berasal dan bagaimana duniaberakhir. Apakah asal mula dunia itu, O para bhikkhu? Dikondisikan oleh mata dan objek-objek yang muncul kesadaran penglihatan. Ketiga hal ini disebut kontak. Karena kontak,muncul perasaan ; karena perasaan, muncul keinginan . . .Demikianlah asal mula seluruh tubuh yang berpenyakitan ini. Dikondisikan oleh telinga dan objek-objek . . .oleh hidung . . . oleh lidah . . . oleh tubuh . . . dan seterusnya . . . Dikondisikan oleh indera pikiran dan benda-benda muncul. Ketiga hal ini adalah kontak. Karena kontak, muncul perasaan ; karena muncul perasaan, muncul keinginan . . . Demikianlah asal mula seluruh tubuh yang berpenyakitan ini. Inilah, O para bhikkhu, apa yang disebut asal mula dunia .”

Disini ungkapan “dikondisikan oleh mata dan objek-objek muncul kesadaran mata dan seterusnya” menunjukkan bahwa di dunia ini kesadaran dan proses pikiran orang secara umum berbeda-beda dari momen ke momen dan menjadi sebab kelahiran kembali mereka dalam bentuk yang berbeda-beda dalam/pada kehidupan berikutnya.

Apapun yang terjadi di alam semesta ini bekerja sesuai dengan lima hukum diatas dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keberadaan hukum-hukum alam semesta bekerja sesuai dengan ada tidaknya kondisi-kondisi pendukung yang muncul. Hukum alam semesta bersifat universal, hukum ini tidak pandang bulu, selama kondisinya tepat maka hukum ini akan bekerja.


Sumber:

http://tanhadi.blogspot.com/2012/01/panca-niyama-d...

http://segenggamdaun.com/2016/02/ternyata-karma-bu...

https://m.facebook.com/artikelbuddhis/photos/a.101...