Icon 43
Sep, 2021

Subhadda si Petapa Pengembara

Author
Kerohanian 2021/2022

Subhadda si Petapa Pengembara

Pada zaman Buddha, ada seorang petapa pengembara yang bernama Subhadda yang tinggal menetap di Kusinara. Kemudian, ketika ia mendengar bahwa Buddha Gotama akan meninggal dunia, ia memutuskan untuk pergi dan menemui beliau, karena Subaddha mempunyai tiga pertanyaan yang telah lama membingungkannya. Ia telah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru – guru agama yang lain tetapi jawaban mereka tidak memuaskan baginya. Ia belum bertanya kepada Buddha Gotama, dan ia merasa bahwa hanya Sang Buddha-lah yang mampu menjawab pertanyaan.

Maka, ia bergegas pergi ke hutan pohon Sala, tetapi Y.A Ananda tidak mengizinkannya bertemu dengan Sang Buddha, karena saat itu kondisi kesehatan Sang Buddha sangat lemah. Sang Buddha yang mendengar percakapan mereka, mengizinkan Subhadda menemuinya. Subhadda mendekati Sang Buddha dan memberi hormat kepadanya, kemudian ia menanyakan tiga pertanyaan, yaitu : 1. Apakah ada jalan di langit?2. Apakah ada bhikkhu - bhikkhu suci diluar ajaran Sang Buddha?3. Apakah ada suatu hal berkondisi yang abadi?Jawaban Sang Buddha terhadap semua pertanyaan tersebut adalah ‘tidak ada’.Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 254 dan 255 berikut ini :

Tidak ada jejak di angkasa,

tidak ada orang suci di luar Dhamma.

Umat manusia bergembira di dalam belenggu,

tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.


Tidak ada jejak di angkasa,

tidak ada orang suci di luar Dhamma.

Tidak ada hal – hal berkondisi yang abadi.

Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.


Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Subhadda mencapai tingkat kesucian anagami, dan atas permohonannya, Sang Buddha menerima Subhadda sebagai anggota Pasamuan Bhikkhu (Sangha). Subhadda adalah orang terakhir yang menjadi bhikkhu pada masa kehidupan Sang Buddha Gotama. Dengan usaha yang rajin dan sungguh – sungguh dalam mengikuti ajaran Sang Buddha, Subhadda menjadi seorang Arahat.

Sumber : http://mitta.tripod.com/subhadda.htm